SETIAP desa dan kelurahan punya cara dan ritual tersendiri agar
wilayah dan masyarakatnya terhindar dari bencana. Demikian juga masyarakat
Kelurahan Kunden Kecamatan Blora. Agar desa dan masyarakatnya terhindar
dari malapetaka, ratusan warga dari kalangan petani, peternak, dan yang
lain menggelar tradisi lamporan, baru-baru ini.
Lamporan diawali dengan acara ritual pemberangkatan dari Balai Kelurahan
Kunden, usai shalat isya. Kemudian dilanjutkan dengan pawai menyusuri jalan
utama yang masuk wilayah Kelurahan Kunden menggunakan obor dan pecut atau
cemiti. Jumlah obor dan pecut yang dibawa dalam pawai ini ditentukan, masing-masing
40 buah. Jumlah ini didasarkan pada proses kelahiran manusia yang diawali
segumpal darah di 40 hari pertama, segumpal daging di 40 hari berikutnya,
dan dimasukkan roh ke dalam segumpal daging tersebut tepat 40 hari berikutnya.
Obor itu merupakan lambang cahaya petunjuk ke arah kehidupan yang lebih
baik. Sementara pecut sebagai pengendali langkah ke arah yang benar.
Di sepanjang jalan yang dilalui, peserta pawai membunyikan pecut sembari
mengucapkan kalimat permohonan ampun pada Sang Pencipta atas dosa dan kesalahan
yang mereka perbuat. Bunyi pecut yang saling bersahutan mengundang warga
ke luar rumah untuk menyaksikan pawai ini.
Pawai semakin meriah dengan keikutsertaan dua grup barongan kelurahan
ini. Yakni Seni Barong Risang Guntur Seto dan Seni Barong Sekar Joyo.
Warga terlihat antusias menonton pawai, meski udara malam terasa menusuk
tulang dan rintik hujan sesekali membasahi bumi. Kemeriahan makin terasa
ketika rombongan rehat sejenak di halaman rumah salah satu tokoh masyarakat
Blora, Drs Yudhi Sancoyo MM. Di tempat ini, ratusan warga berjubel untuk
menyaksikan atraksi barongan. Setelah beberapa lama melakukan atraksi,
rombongan melanjutkan perjalanan ke sekitar alun-alun dan pendapa rumah
dinas bupati, sebelum akhirnya kembali ke Balai Kelurahan Kunden. Kegiatan
lamporan ini diakhiri dengan selamatan dan makan bersama seluruh warga
di balai kelurahan. Turun-temurun Camat Blora Pudiyatmo mengemukakan, lamporan merupakan tradisi
turun-temurun masyarakat Kelurahan Kunden. Menurut dia, lamporan adalah
kegiatan ritual untuk menolak bala, membersihkan sengkala serta
untuk keselamatan dan kemakmuran seluruh warga Kelurahan Kunden.
"Melalui tradisi lamporan, kami berharap hasil panen melimpah,
hewan ternak sehat, dan keselamatan serta kemakmuran warga tercapai,"
ujarnya.
Meski demikian, Pudiyatmo yang juga warga Kelurahan Kunden ini mengatakan,
tanpa disertai kerja keras, mustahil kesejahteraan dan kemakmuran tercapai.
Karena itu, dia berharap kegiatan lamporan bisa dijadikan momentum untuk
memulai hidup yang lebih baik dengan usaha, sabar, dan tawakal.
Dia juga berpendapat tradisi lamporan perlu tetap dilestarikan. Sebab
melalui lamporan, kebersamaan, gotong royong serta persatuan dan kesatuan
antarwarga terjaga dengan baik. Dia mengatakan, dengan inovasi yang dilakukan,
bukan tidak mungkin tradisi lamporan bisa menjadi objek wisata budaya bernilai
seni tinggi. Karena itu, dia meminta dukungan semua pihak agar maksud itu
bisa tercapai. "Kami berharap dari tahun ke tahun tradisi tetap dilestarikan
sehingga bisa menjadi salah satu objek wisata budaya unggulan yang dimiliki
kabupaten ini," tandasnya. (Abdul Muiz-15m)
sebagai bentuk dari pertahanan tanah dan tempat tinggal mereka, maka JM-PPK mengadakan kegiatan sebagai bentuk tanda bahwa mereka menolak adanya pembangunan pabrik semen di tempatnya.
05 Juli 2014