Kamis, 07 November 2013

burung hantu


Burung hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui, yang menyebar di seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau terpencil.
Di dunia barat, hewan ini dianggap simbol kebijaksanaan, tetapi di beberapa tempat di Indonesia dianggap pembawa pratanda maut, maka namanya Burung Hantu. Walau begitu tidak di semua tempat di Nusantara burung ini disebut sebagai burung hantu. Di Jawa misalnya, nama burung ini adalah darès atau manuk darès yang tidak ada konotasinya dengan maut atau hantu. Di Sulawesi Utara, burung hantu dikenal dengan nama Manguni.
Burung hantu dikenal karena matanya besar dan menghadap ke depan, tak seperti umumnya jenis burung lain yang matanya menghadap ke samping. Bersama paruh yang bengkok tajam seperti paruh elang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan "wajah" burung hantu ini demikian mengesankan dan kadang-kadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang.
Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung ini tidak mudah kelihatan; begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah lindungan daun-daun.
Ekor burung hantu umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya.

belalang daun




Belalang daun merupakan binatang belalang yang mirip daun. Belalang merupakan salah satu binatang yang handal dalam menyamar untuk menghindarkan diri dari pemangsa. Belalang daun dapat ditemukan di hutan-hutan di Indonesia.

sedekah

 

Rabu, 23 Oktober 2013

GUNUNG KENDENG DAN MATA AIR -MATA AIR RAKSASANYA

GUNUNG
KENDENG: MATA AIR -MATA AIR RAKSASA PEGUNUNGAN KENDENG
: Di
wilayah karst Pati (Sukolilo,Kayen, Tambakromo) terdapat 145 sumber
sumber air raksasa yang mengalir sepanjang tahun. Keberadaan Sumber D...

Minggu, 13 Oktober 2013

Sosok Anglingdharma, raja Malawapati yang sakti mandraguna, hingga kini masih perlu ditelusuri apakah sekadar legenda ataukah benar-benar ada. Perpaduan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat dan penelitian pakar dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, paling tidak, bisa dijadikan referensi untuk mengurainya. Rencananya, jejak petilasan Anglingdharma di Bojonegoro akan dikembangkan menjadi obyek wisata sejarah dan budaya. Kini di lokasi situs Mlawatan, Desa Wotan Ngare, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, sudah dibangun sebuah joglo berukuran 8 meter persegi dan gapura masuk ke lokasi. Pembangunan joglo dan gapura senilai Rp 200 juta didanai dari APBD Bojonegoro 2009. Pada tahun anggaran 2010 di sekitar joglo akan dibuat pagar keliling dengan biaya sekitar Rp 300 juta. Petilasan Berdasarkan hasil kajian Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, hampir dipastikan situs Mlawatan ada kaitannya dengan Kerajaan Malawapati. Namun, perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah lokasi situs Mlawatan merupakan pusat kerajaan Malawapati, benteng pertahanan atau tempat tinggal pembesar kerajaan. Hasil penelitian sementara, situs Mlawatan merupakan petilasan Kerajaan Malawapati. Kepala Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bojonegoro Saptatik menjelaskan, berdasarkan fakta lapangan, ditemukan sejumlah tempat dan nama di Bojonegoro yang juga ada dalam referensi naskah kuno Serat Anglingdharma. Tim Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta yang terdiri dari Sukari, Suyami, dan Hery Istiyawan telah meneliti legenda Kerajaan Malawapati mengambil referensi naskah kuno Serat Anglingdharma. Beberapa kali mereka turun ke lokasi dan mewawancarai sejumlah tokoh masyarakat yang mengenal perjalanan sejarah situs Mlawatan. Di lokasi yang dianggap petilasan Anglingdharma, ada nama, istilah, atau sebutan sama dengan yang ada dalam Serat Anglingdharma. Istilah Dusun Budak, Tanah Tibong (tempat istri Anglingdharma membakar diri), Kedungandu, dan sebutan Demang Klingsir atau orang yang pekerjaannya menangkap dan memelihara burung sampai kini masih ada. Laporam tim juga menyebutkan adanya lemah mbag (tanah gembur memanjang) dan Punden Besalen. Di Punden Besalen di lokasi situs Mlawatan selama ini menjadi ajang perburuan orang mencari pusaka. Warga setempat banyak menemukan benda pusaka yang diperkirakan peninggalan masa raja Anglingdharma. Punden Besalen diyakini warga merupakan tempat pembuatan pusaka di zaman Malawapati. Lemah mbag dipercaya merupakan tempat pengamanan istana kerajaan. Tim dari Yogyakarta juga mengambil foto benda pusaka dan batu bata yang diperkirakan peninggalan zaman Kerajaan Malawapati. Samudi (35), warga Wotan Ngare, menuturkan, di sekitar lokasi lemah mbag, yang berdekatan dengan bangunan joglo yang kini dibangun banyak warga menemukan kepingan benda seperti guci dan keramik kuno. Namun, oleh warga dibiarkan saja karena sudah pecah-pecah. Selain itu, ada warga yang sering menemukan pusaka berupa keris. Warga lainnya, Sampan (70), menuturkan lemah mbag dulu bila diinjak bergerak karena itu disebut tanah gembur. Dulu bila musim hujan tanah mbag tidak bisa dilewati atau kaki bisa ambles. "Pokoknya kalau sini diinjak yang sana gerak," katanya menunjuk lokasi lemah mbag yang membentang sepanjang sekitar 1 kilometer dengan lebar 400 meter.

Jumat, 16 Agustus 2013

sejarah nyai angeng ngerang

Nyai Ageng Ngerang adalah Waliyullah dan Ulama wanita yang menyebarkan agama islam di wilayah Juwana Pati,Muria dan daerah Lereng Pegunungan Kendeng dan dimakamkan di Pedukuhan Ngerang Desa Tambakromo Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati Jawa Tengah Makamnya dari kota Pati ke arah Selatan sekitar 18 km.Nyai Ageng Ngerang nama kecilnya bernama Dewi Roro Kasihan [1] dan nama lainnya yakni Nyai Siti Rohmah.Beliau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan dan gelar Nyai Ageng Ngerang karena bersuamikan Ki Ageng Ngerang I yang mempunyai wilayah kekuasaan di Ngerang Juwana.Nyai Ageng Ngerang merupakan salahsatu keturunan Bangsawan Kerajaan Majapahit,Prabu Kertabumi (Brawijaya V) dan mempunyai nasab sampai dengan Nabi Muhammad SAW generasi ke 25 dari keluarga Bani Allawi Hadramaut.Nyai Ageng Ngerang seorang waliyullah yang mumpuni dan diberi karomah Allah SWT yang luarbiasa.Karomah dan Berkahnya sampai sekarang masih dirasakan oleh masyarakat Pati Selatan dan Para Peziarah makam Waliyullah Nyai Ageng Ngerang.Nyai Ageng Ngerang merupakan Leluhur atau Pepunden Pati,Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.Nyai Ageng Ngerang diperkirakan hidup pada abad ke XV,masa hidup beliau sangat panjang.Menurut beberapa catatan Babat Tanah Jawi,Serat Centhini dan berbagai sumber buku dan juga dari Keraton Surakarta Hadiningrat berikut silsilah Nyai Ageng Ngerang :
  • Nama Asli Beliau:Dewi Roro Kasihan
  • Nama lain Beliau:Nyai Siti Rohmah
  • Nama Populer dimasyarakat:Nyai Ageng Ngerang
  • Gelar:Waliyullah Nyai Ageng Ngerang
  • Suami Beliau: Ki Ageng Ngerang I,Salahsatu Putra Sunan Maulana Malik ibrahim al magribi
  • Ayah Beliau:Raden Bondan Kejawan atau Aryo Lembu Peteng atau Ki Ageng Tarub II.
  • Ibu Beliau :Dewi Retno Nawangsih
  • Kakek Nenek: Prabu kertabumi Brawijaya V dan Putri Wandan kuning
  • Kakek nenek:Ki Ageng Tarub atau Joko Tarub dan Dewi Nawang Wulan,seorang bidadari kahyangan.
  • Saudara Kandung: Ki Ageng Wonosobo dan Ki ageng Getas Pendowo
  • Keturunan Nyai Ageng Ngerang sebagai berikut:
  1. 1.Nyi Ageng Ngerang II atau Nyi ageng Selo II
Putri Nyai ageng Ngerang ini menikah dengan Ki Ageng Selo[2],seorang legendaris yang mempunyai karomah dapat menangkap petir. Ki Ageng Selo adalah Keponakan dan sekaligus menantu Nyai Ageng Ngerang.
  1. 2.Ki Ageng Ngerang II Putra Nyai Ageng Ngerang ini mempunyai putra yakni;Ki ageng Ngerang III,Ki Ageng Ngerang IV dan Pangeran Kalijenar.
  1. 2.1 Ki Ageng Ngerang III Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah atau Nyi Ageng Ngerang III[3] salahsatu putri Sunan Kalijaga.dan mempunyai Putra yang bernama Ki Ageng Penjawi yang juga disebut Ki Ageng Pati kaena mendapat hadiah dari Raja Pajang yakni tanah Perdikan yang sudah berbentuk wilayah yang sudah ramai.
  2. 2.2 Ki Ageng Penjawi[4] mempunyai Putra yakni Waskita Jawi yang menjadi permaisuri Panembahan Senopati Sutawijaya yang bergelar Ratu Mas.dan yang satu lagi bernama Wasis JoyoKusumo yang bergelar Adipati Pragola Pati.
  3. 2.2.19 Sunan Pakubuwono XIII dan Sultan Hamengkubuwono X adalah Keturunan Nyai Ageng Ngerang generasi ke 19.
Data sumber www.nyaiagengngerang .blogspot.com info sejarah terdepan Almukarom Nyai Ageng Ngerang.

sejarah syeh jangkung

MAKAM SARIDIN SANG SYEH JANGKUNG DAN SEJARAH KEHIDUPANNYA

Makam Saridin atau terkenal dengan nama Syeh Jangkung konon merupakan salah seorang murid Sunan Kalijaga (Wali Songo).
Lokasi : Makam tersebut terletak di Desa Landoh, Kecamatan Kayen. Jarak dari kota Pati kira-kira 17 Km kearah selatan  menuju Kabupaten Grobogan. Makam ini banyak dikunjungi orang setiap hari Jumat Kliwon dan Jumat Legi. Upacara khol dilaksanakan setiap 1 tahun sekali yaitu pada bulan Rajab tanggal 14-15 dalam rangka penggantian kelambu  makam.
Fasilitas : Bangunan Pendopo dan bangunan mesjid.
Makam ini ramai dikunjingi wisatawan, lebih-lebih hari Jum at Pahing, penunjung dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera bahkan Malaysia dan Singapura.
Mengenai Upacara Khol dilaksanakan setiap tanggal : 14 – 15 bulan Rajab dengan acara : – Upacara Ganti Selambu
Pasar Malam – Pengajian
Sejarah :
Menurut cerita Saridin (Syech Jangkung) dilahirkan di Desa Landoh Kiringan Tayu.Setelah dewasa beliau berkelana di daerah-daerah Pulau Jawa bahkan sampai di Sumatera untuk menyebarkan Agama Islam. Waktu masih hidup beliau wasiat apabila wafat agar dimakamkan di Desa Landoh,Kayen.
Dikomplek Makam Saridin ada beberapa makam :
a. Makam bakul legen yaitu Prayoguna dan Bakirah.
b. Makam isteri-isterinya yaitu RA Retno Jinoli dan RA Pandan Arum.

Syeh Jangkung ketika Kecil Sangat Nakal
SIAPA sebenarnya Saridin itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, warga Pati dan sekitarnya mungkin bisa membaca buku Babad Tanah Jawa yang hidup sekitar awal abad ke-16. Sebab, menurut cerita tutur tinular yang hingga sekarang masih diyakini kebenarannya oleh masyarakat setempat, dia disebut-sebut putra salah seorang Wali Sanga, yaitu Sunan Muria dari istri bernama Dewi Samaran.

Siapa wanita itu dan mengapa seorang bayi laki-laki bernama Saridin harus dilarung ke kali? Konon cerita tutur tinular itulah yang akhirnya menjadi pakem dan diangkat dalam cerita terpopuler grup ketoprak di Pati, Sri Kencono. Cerita babad itu menyebutkan, bayi tersebut memang bukan darah daging Sang Sunan dengan istrinya, Dewi Samaran.
Terlepas sejauh mana kebenaran cerita itu, dalam waktu perjalanan cukup panjang muncul tokoh Branjung di Desa Miyono yang menyelamatkan dan merawat bayi Saridin hingga beranjak dewasa dan mengakuinya sebagai saudaranya. Cerita pun merebak. Ketika masa mudanya, Saridin memang suka hidup mblayang (berpetualang) sampai bertemu dengan Syeh Malaya yang dia akui sebagai guru sejati.
Syeh Malaya itu tak lain adalah Sunan Kalijaga. Kembali ke Miyono, Saridin disebutkan telah menikah dengan seorang wanita yang hingga sekarang masyarakat lebih mengenal sebutan ”Mbokne (ibunya) Momok” dan dari hasil perkawinan tersebut lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Momok.
Sampai pada suatu ketika antara Saridin dan Branjung harus bagi waris atas satu-satunya pohon durian yang tumbuh dan sedang berbuah lebat. Bagi waris tersebut menghasilkan kesepakatan, Saridin berhak mendapatkan buah durian yang jatuh pada malam hari, dan Branjung dapat buah durian yang jatuh pada siang hari.

Kiasan
Semua itu jika dicermati hanyalah sebuah kiasan karena cerita tutur tinular itu pun melebar pada satu muara tentang ketidakjujuran Branjung terhadap ibunya Momok. Sebab, pada suatu malam Saridin memergoki sosok bayangan seekor macan sedang makan durian yang jatuh.
Dengan sigap, sosok bayangan itu berhasil dilumpuhkan menggunakan tombak. Akan tetapi, setelah tubuh binatang buas itu tergolek dalam keadaan tak bernyawa, berubah wujud menjadi sosok tubuh seseorang yang tak lain adalah Branjung.
Untuk menghindari cerita tutur tinular agar tidak vulgar, yang disebut pohon durian satu batang atau duren sauwit yang menjadi nama salah satu desa di Kecamatan Kayen, Durensawit, sebenarnya adalah ibunya Momok, tetapi oleh Branjung justru dijahili.
Terbunuhnya Branjung membuat Saridin berurusan dengan penguasa Kadipaten Pati. Adipati Pati waktu itu adalah Wasis Joyo Kusumo yang harus memberlakukan penegakan hukum dengan keputusan menghukum Saridin karena dinyatakan terbukti bersalah telah membunuh Branjung.
Meskipun dalam pembelaan Saridin berulang kali menegaskan, yang dibunuh bukan seorang manusia tetapi seekor macan, fakta yang terungkap membuktikan bahwa yang meninggal adalah Branjung akibat ditombak Saridin.
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, dia harus menjalani hukuman yang telah diputuskan oleh penguasa Pati.

Pulang
Sebagai murid Sunan Kalijaga yang tentu mempunyai kelebihan dan didorong rasa tak bersalah, kepada penguasa Pati dia menyatakan telah punya istri dan anak. Karena itu, dia ingin pulang untuk menengok mereka.

Ulahnya Menjengkelkan Sunan Kalijaga
ONTRAN – ontran Saridin di perguruan Kudus tidak hanya menjengkelkan para santri yang merasa diri senior, tetapi juga merepotkan Sunan Kudus. Sebagai murid baru dalam bidang agama, orang Miyono itu lebih pintar ketimbang para santri lain.
Belum lagi soal kemampuan dalam ilmu kasepuhan. Hal itu membuat dia harus menghadapi persoalan tersendiri di perguruan tersebut. Dan itulah dia tunjukkan ketika beradu argumentasi dengan sang guru soal air dan ikan.
Untuk menguji kewaskitaan Saridin, Sunan Kudus bertanya, “Apakah setiap air pasti ada ikannya?” Saridin dengan ringan menjawab, “Ada, Kanjeng Sunan.”
Mendengar jawaban itu, sang guru memerintah seorang murid memetik buah kelapa dari pohon di halaman. Buah kelapa itu dipecah. Ternyata kebenaran jawaban Saridin terbukti. Dalam buah kelapa itu memang ada sejumlah ikan. Karena itulah Sunan Kudus atau Djafar Sodiq sebagai guru tersenyum simpul.
Akan tetapi murid lain menganggap Saridin lancang dan pamer kepintaran. Karena itu lain hari, ketika bertugas mengisi bak mandi dan tempat wudu, para santri mengerjai dia. Para santri mempergunakan semua ember untuk mengambil air.
Saridin tidak enak hati. Karena ketika para santri yang mendapat giliran mengisi bak air, termasuk dia, sibuk bertugas, dia menganggur karena tak kebagian ember. Dia meminjam ember kepada seorang santri.
Namun apa jawab santri itu? ”Kalau mau bekerja, itu kan ada keranjang.” Dasar Saridin. Keranjang itu dia ambil untuk mengangkut air. Dalam waktu sekejap bak mandi dan tempat wudu itu penuh air. Santri lain pun hanya bengong.

Dalam WC
Cerita soal kejadian itu dalam sekejap sudah diterima Sunan Kudus. Demi menjaga kewibawaan dan keberlangsungan belajar para santri, sang guru menganggap dia salah. Dia pun sepantasnya dihukum.
Sunan Kudus pun meminta Saridin meninggalkan perguruan Kudus dan tak boleh lagi menginjakkan kaki di bumi Kudus. Vonis itu membuat Saridin kembali berulah. Dia unjuk kebolehan.
Tak tanggung-tanggung, dia masuk ke lubang WC dan berdiam diri di atas tumpukan ninja. Pagi-pagi ketika ada seorang wanita di lingkungan perguruan buang hajat, Saridin berulah. Dia memainkan bunga kantil, yang dia bawa masuk ke lubang WC, ke bagian paling pribadi wanita itu.
Karena terkejut, perempuan itu menjerit. Jeritan itu hingga menggegerkan perguruan. Setelah sumber permasalahan dicari, ternyata itu ulah Saridin. Begitu keluar dari lubang WC, dia dikeroyok para santri yang tak menyukainya. Dia berupaya menyelamatkan diri. Namun para santri menguber ke mana pun dia bersembunyi.
Lagi-lagi dia menjadi buronan. Selagi berkeluh kesah, menyesali diri, dia bertemu kembali dengan sang guru sejati, Syekh Malaya.
Sang guru menyatakan Saridin terlalu jumawa dan pamer kelebihan. Untuk menebus kesalahan dan membersihkan diri dari sifat itu, dia harus bertapa mengambang atau mengapung) di Laut Jawa.
Padahal, dia tak bisa berenang. Syekh Malaya pun berlaku bijak. Dua buah kelapa dia ikat sebagai alat bantu untuk menopang tubuh Saridin agar tak tenggelam.
Dalam cerita tutur-tinular disebutkan, setelah berhari-hari bertapa di laut dan hanyut terbawa ombak akhirnya dia terdampar di Palembang. Cerita tidak berhenti di situ. Karena, dalam petualangan berikutnya, Saridin disebut-sebut sampai ke Timur Tengah.

Lulang Kebo Landoh Tak Tembus Senjata
ATAS jasanya menumpas agul-agul siluman Alas Roban, Saridin mendapat hadiah dari penguasa Mataram, Sultan Agung, untuk mempersunting kakak perempuannya, Retno Jinoli.
Akan tetapi, wanita itu menyandang derita sebagai bahu lawean. Maksudnya, lelaki yang menjadikannya sebagai istri setelah berhubungan badan pasti meninggal.
Dia harus berhadapan dengan siluman ular Alas Roban yang merasuk ke dalam diri Retno Jinoli. Wanita trah Keraton Mataram itu resmi menjadi istri sah Saridin dan diboyong ke Miyono berkumpul dengan ibunya, Momok.
Saridin membuka perguruan di Miyono yang dalam waktu relatif singkat tersebar luas sampai di Kudus dan sekitarnya. Kendati demikian, Saridin bersama anak lelakinya, Momok, beserta murid-muridnya, tetap bercocok tanam.
Sebagai tenaga bantu untuk membajak sawah, Momok minta dibelikan seekor kerbau milik seorang warga Dukuh Landoh. Meski kerbau itu boleh dibilang tidak lagi muda umurnya, tenaganya sangat diperlukan sehingga hampir tak pernah berhenti dipekerjakan di sawah.
Mungkin karena terlalu diforsir tenaganya, suatu hari kerbau itu jatuh tersungkur dan orang-orang yang melihatnya menganggap hewan piaraan itu sudah mati. Namun saat dirawat Saridin, kerbau itu bugar kembali seperti sedia kala.

Membagi
Dalam peristiwa tersebut, masalah bangkit dan tegarnya kembali kerbau Landoh yang sudah mati itu konon karena Saridin telah memberikan sebagian umurnya kepada binatang tersebut. Dengan demikian, bila suatu saat Saridin yang bergelar Syeh Jangkung meninggal, kerbau itu juga mati.
Hingga usia Saridin uzur, kerbau itu masih tetap kuat untuk membajak di sawah. Ketika Syeh Jangkung dipanggil menghadap Yang Kuasa, kerbau tersebut harus disembelih. Yang aneh, meski sudah dapat dirobohkan dan pisau tajam digunakan menggorok lehernya, ternyata tidak mempan.
Bahkan, kerbau itu bisa kembali berdiri. Kejadian aneh itu membuat Momok memberikan senjata peninggalan Branjung. Dengan senjata itu, leher kerbau itu bisa dipotong, kemudian dagingnya diberikan kepada para pelayat.
Kebiasan membagi-bagi daging kerbau kepada para pelayat untuk daerah Pati selatan, termasuk Kayen, dan sekitarnya hingga 1970 memang masih terjadi. Lama-kelamaan kebiasaan keluarga orang yang meninggal dengan menyembelih kerbau hilang.
Kembali ke kerbau Landoh yang telah disembelih saat Syeh Jangkung meninggal. Lulang (kulit) binatang itu dibagi-bagikan pula kepada warga. Entah siapa yang mulai meyakini, kulit kerbau itu tidak dimasak tapi disimpan sebagai piandel.
Barangsiapa memiliki lulang kerbau Landoh, konon orang tersebut tidak mempan dibacok senjata tajam. Jika kulit kerbau itu masih lengkap dengan bulunya. Keyakinan itu barangkali timbul bermula ketika kerbau Landoh disembelih, ternyata tidak bisa putus lehernya.